Friday, December 26, 2014

Hidup Di Dunia Laksana Azan dan Iqomah

“Hidup kita didunia ini singkat Nak Mas, bahkan sangat singkat Nak Mas, hidup kita didunia ini tidak lebih dari ‘waktu adzan hingga menunggu waktu shalat tiba’…..” Kata Ki Bijak dalam suatu kesempatan.
“Waktu hidup kita didunia tidak lebih dari waktu adzan hingga menunggu waktu shalat tiba ki…?” Tanya Maula belum paham.



“Ya Nak Mas…, orang-orang tua kita dulu, dengan sangat cerdik menggambarkan singkatnya perjalanan seorang anak manusia didunia ini, dengan sebuah symbol, yaitu dengan mengadzani bayi ketika baru lahir…….” Kata Ki Bijak menghentikan penjelasannya sehingga membuat Maula penasaran.

“Lalu ki….?” Tanya Maula tidak sabar.

“Lalu ketika seseorang meninggal, maka ia akan dishalatkan, shalat jenazah namanya, Nak Mas perhatikan, ketika kita lahir, kita diadzani, kemudian ketika kita meninggal, kita dishalati, bukankah ini sebuah ‘nasehat’ yang sangat bagus untuk menggambarkan betapa singkatnya hidup ini, kehidupan kita didunia ini berkisar antara saat adzan dan waktu shalat tiba…….” Kata Ki Bijak melanjutkan.

“Subhanallah…., benar ki…., betapa singkatnya hidup ini…, waktu antara adzan dan waktu shalat itu tidak pernah lebih dari setengah jam ki…., paling-paling lima hingga sepuluh menitan…..” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, waktu antara adzan hingga waktu shalat tiba hanya sekitar lima sampai sepuluh menitan, waktu yang sangat singkat……., pernah Nak Mas perhatikan apa yang dilakukan kebanyakan orang yang sedang menunggu datangnya waktu shalat setelah adzan berkumandang…?” Tanya Ki Bijak.

“Macam-macam ki…, ada yang melaksanakan shalat qobliyah, ada yang dzikir, tapi banyak pula yang bercanda, bersenda gurau, ledek-ledekan, bahkan ada yang tertawa-tawa dan ngobrol seperti dipasar……” Kata Maula.

“Apapun aktivitasnya, baik itu dia melaksanakan shalat sunnah, baik itu dia dzikir, baik itu dia bercanda, bersenda gurau,ledek-ledekan atau bahkan tertawa dan ngobrol, tapi saat shalat tiba, dia harus mengakhirinya setelah imam bertakbir….., Nak Mas tahu yang Aki maksud….?” Tanya Ki Bijak.

Maula diam sejenak, mencoba mencerna apa yang dimaksud gurunya, “Mungkin itu gambaran dalam kehidupan kita ya ki…., sejak kita dilahirkan, menjadi sesosok bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan kemudian menjadi tua, setiap orang melakukan berbagai aktivitas berbeda-beda dalam mengisi waktu hidupnya…,

“Ada yang menggunakan waktunya untuk mengabdi kepada Allah, beribadah, menunaikan rukun islam dengan baik dan benar, beramal shaleh dan lainnya….,

“Disisi lain, ada orang yang menggunakan masa hidupnya untuk berfoya-foya, bersenda gurau, bahkan tidak jarang yang menghabiskan waktu hidupnya untuk bermaksiat, baik itu bermaksiat kepada Allah, pun juga banyak orang yang menghabiskan masa hidupnya untuk bermaksiat kepada sesama manusia……., Bukan begitu ki…” Kata Maula.
Ki Bijak mengangguk, “Lalu Nak Mas…?” Tanya Ki Bijak kemudian.

“Lalu, terlepas dari apapun yang dilakukan oleh masing-masing manusia dalam mengisi kehidupannya, suatu saat nanti, saat dishalatkan itu akan tiba, saat kematian itu pasti datang kepada siapapun, dan ketika saat kematian itu datang, tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki diri atau menyesal, karena itu sudah terlambat…” Kata Maula.

“Tepat Nak Mas…., saat kita dishalatkan itu pasti datang, terlepas dari bagaimana kita ‘menunggu’ dan menghabiskan waktu kita dari kita diadzani hingga waktu kita dishalatkan itu tiba….., maka merugilah mereka yang menghabiskan waktu antara adzan dan waktu dishalatkan itu dengan bercanda, dengan bersenda gurau, dengan main-main, karena waktu tidak akan menunggu, sekali ia datang, maka tidak akan ada sesuatu pun yang akan menghalanginya….”

“Sebaliknya, ‘beruntunglah’ mereka yang menunggu saat-saat waktu dishalatkan itu tiba dengan ibadah, dengan berdzikir, dengan beramal shaleh, dan berbuat kebajikan, insya Allah kelompok ini termasuk golongan orang-orang yang akan berbahagia setelah waktu dishalatkannya, karena mereka akan mendapatkan kelapangan dialam kuburnya, dan insya Allah diakhirat pun mereka akan beroleh kebahagiaan, sebagai balasan atas kebajikan yang mereka lakukan semenjak adzan dikumandangkan hingga waktu dishalatkan tiba…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Adzan hingga waktu shalat………, waktu yang sangat sekali….” Kata Maula setengah berguman.

“Ya Nak Mas…., nanum diantara singkatnya waktu tersebut, sesungguhnya waktu antara adzan dan iqomah dan kemudian shalat, itu adalah waktu mustajab untuk kita bermunajat kepada Allah, sebagaimana hadits dari Anas Bin Malik bahwa Rasulullah Saw bersabda,” Do’a tidak akan ditolak antara adzan dan iqomat” ( Sunan Abu Daud kitab sholat 1/144 No. 521, Sunan At Tirmizi bab Jamiud Da’awat 13/87, Sunan Al Baih kitab Sholat 1/410 )……”Kata Ki Bijak lagi.

“Artinya apa ki…?” Tanya Maula.

“Aki tidak bermaksud mentafsirkan hadits ini kalau Aki mengatakan bahwa ini juga sebuah tamsil bahwa kehidupan dunia yang singkat ini dapat menjadi sesuatu yang sangat berharga bila kita pandai memanfaatkannya, dunia ini tempat kita berladang dan bercocok tanam ‘kebajikan’, yang jika kita pandai menjaga dan merawatnya, maka hasil panen kebajikan ini adalah sebuah bekal yang sangat berharga untuk kita hidup dialam keabadian nanti……,

“Mungkin masa hidup umat baginda Rasul ini tidak sepanjang umat-umat terdahulu, hanya berkisar antara 60 sampai 70 tahun saja, sangat singkat jika dibanding dengan umat Nabi Nuh yang mencapai 900 tahunan, tapi justru inilah yang membuat ‘perbedaan’ antara umat baginda Rasul dengan umat sebelumnya, bahwa dengan usia yang sangat singkat ini, umat Rasul diberi ‘fasilitas’ untuk memasuki surganya Allah terlebih dahulu…, dengan catatan itu tadi, fasilitas itu akan diberikan kepada mereka yang bisa menggunanakan waktu hidupnya dengan penuh kehati-hatian, penuh pengabdian kepada Allah swt dengan menjalankan semua perintahNya semampu yang kita bisa, dan meninggalkan laranganya dengan sungguh-sungguh dengan segenap kemampuan kita….., mulai dari kita diadzani, hingga kita dishalatkan…, insya Allah hidup yang singkat ini akan menjadi berharga bagi kehidupan kita sekarang, didunia, pun dan kehidupan kita diakhirta kelak…….” Kata Ki Bijak lagi.

Maula terdiam, merenungi singkatnya waktu antara adzan dan shalat, merenungi sudah berapa lama waktu yang ia habiskan semenjak ia lahir dan dikumandangkan adzan ditelinga kanannya……, sekarang entah berapa lama lagi waktu yang tersisa hingga waktu dishalatkan itu kan tiba….”

“Yaa Rabb……, berilah hamba kemampuan untuk dapat mensyukuri nikmat umur yang Engkau berikan ini, dengan semata mengabdi kepadaMu, dan ampuni jika ada waktu-waktu yang Engkau berikan, terbuang sia-sia karena kedhaian hamba…..” Maula bermunajat kepada Allah swt.

“Amiiin…….” Sambut Ki Bijak, membiarkan Maula tenggelam dalam dzikirnya.

Wassalam

www.facebook.com/RKIINSPIRATIF
Share:

Interaksi antara Laki-Laki dengan Wanita yang Halal dan yang Haram: Memahami Apa itu Ikhtilat

Sebetulnya jarang-jarang saya membahas fiqih secara fokus di satu artikel blog ini. Itu artinya, kalau udah saya bahas secara fokus begini, ini penting. Serius, ini penting! Soalnya, ternyata banyak diantara kita yang belum paham tentang ikhtilat ini. Kalau ikhtilat ini belum dipahami, nggak heran, jadinya kita kerap terjerumus dalam dosa. Padahal, saya kepingin banget istiqomah. Tentunya kita semua butuh banget istiqomah.


Nah, Terus, Apa itu Ikhtilat?

Beli Tas Ransel Wanita Murah SekarangIkhtilat itu artinya adalah, ketika beberapa cowok dan beberapa cewek berkumpul-kumpul pada suatu tempat, yang padahal mereka semua itu bukan mahrom. Plus, terjadinya interaksi di antara mereka. Seperti halnya ngobrol, nyentuh tangannya, dan sebagainya.

Contohnya? Banyak. Cukup lumrah terjadi. Seperti halnya ketika Anda naik angkot. Nah, itu kan di angkot itu, Anda akan berpapasan dengan laki-laki maupun perempuan yang bukan mahrom. Sudah begitu, sampai berdesak-desakan lagi. Yang lebih konkrit lagi, itu kalau naik Kereta Api. Wah, sepertinya sulit untuk menghindari ikhtilat kalau sudah begitu.

Emangnya Kenapa Kalau Ikhtilat?
Lantaran, dalam Islam, ikhtilat itu hukumnya haram. Berdosa kalau Anda begitu. Artinya, yah nggak boleh Anda ngumpul-ngumpul dan berinteraksi begituan dengan lawan jenis yang bukan mahrom Anda. Lagian, kalau kita lihat faktanya sekarang, ujung-ujungnya ikhtilat itu akan menuju kepada:
Memandang aurat
Pelecehan seksual
Menyentuh kulit yang bukan mahrom
Zina
Dan sebagainya

Sesungguhnya ikhtilat adalah jalan yang memudahkan terjadinya berbagai kemaksiatan. Antara lain, terjadinya khalwat, yaitu laki-laki yang berdua-duaan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Sabda Rasulullah SAW, ”Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang perempuan, karena yang ketiganya adalah syaitan.”
[HR. Ahmad]

Kan Nggak Ngapa-Ngapain?
Kalau nggak ngapa-ngapain, yah ngapain ngumpul-ngumpul? Hehehe! Kalau nggak ngapa-ngapain, yah nggak apa-apa. Coba Anda simak sekali lagi definisi ikhtilat yang dipaparkan di atas. Ikhtilat itu, terjadi karena 2 hal. Satu, bercampur baurnya pria dan wanita yang bukan mahrom dalam satu tempat. Dua, terjadi interaksi diantara mereka.

Nah, kalau cuman bercampur baur doang, nggak ada interaksi, yah nggak apa-apa. Kayak misalnya kalau Anda lagi ke Mall tuh. Itu kan pas Anda lagi lihat-lihat barang, di dekat Anda juga ada banyak lawan jenis yang bukan mahrom. Selama tidak ada interaksi, nggak apa-apa. Anda nggak berdosa.
Tapi, Ada juga Ikhtilat yang Halal

Yah, ada pengecualian. Ada saat-saat laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom boleh berkumpul di suatu tempat, dan berinteraksi. Yakni, tatkala pada perkara:
Jual-Beli. Maksudnya, kalau Anda lagi jajan, belanja, dan sebagainya.

Pendidikan. Dengan kata lain, belajar dan mengajar. Nah, kayak kalau di Sekolah maupun di Kampus. Dan sebagainya.

Kesehatan. Seperti halnya kalau Anda ke dokter dan dicek sakit apa. Juga, seperti pas Anda diopname di Rumah Sakit. Dan sebagainya.
Sosial. Seperti halnya dalam dakwah, pengadilan, dan sebagainya.
Ibadah. Seperti halnya berhaji.
Waspadai Modus!

Dan pada kasus lainnya, adalah dimana saat memang mengharuskan laki-laki dan perempuan itu berinteraski. Yang jika mereka tidak berinteraksi, maka kepentingan tersebut tidak bisa terjadi. Seperti halnya ketika Anda belanja di Indomaret, rupanya yang jaga kasirnya lawan jenis. Tinggal sendirian pula dia. Kan nggak mungkin kalau kita langsung borong nggak bayar kan?

Tapi, sekiranya ada kepentingan yang bisa dilakukan tanpa harus ikhtilat, yah janganlah ikhtilat. Seperti halnya untuk makan di KFC. Ngapain ngajak-ngajak lawan jenis yang bukan mahrom? Toh, makan sendirian juga bisa. Apa perlu makannya sambil disemangatin, “Cemungudh Qaqack!” gitu? Ah, itu mah modus namanya! Hehehe!

Terpisahnya Kehidupan Laki-Laki dan Perempuan
Pada awalnya, komunitas laki-laki dan perempuan itu harusnya terpisah. Yang namanya komunitas (dalam artian kumpulan individu), laki-laki cukup berkumpul dengan laki-laki saja, dan perempuan cukup ngumpul dengan perempuan saja. Makanya kan, dalam sholat shafnya dipisah. Dalam kajian, shafnya dipisah. Harusnya, dalam urusan lain juga dipisah. Cukup jelas kita udah dikasih tahu hal begini, dari cerita-cerita pas Rasulullah hidup waktu itu.

Kalau dulu, aturan ini diberlakukan menjadi undang-undang resmi di negara. Cuman, semenjak tahun 1924, negeri Islam yang satu jadi terpecah belah, sehingga menjadi Indonesia, Malaysia, Arab, Turki, dan sebagainya. Ketika sudah pecah begitu, akhirnya yang mengatur undang-undang adalah orang yang nggak hobi dengan Al-Qur’an dan hadits. Mereka lebih hobi mengikuti aturan yang dibuat oleh sebagian kaum Yahudi dan Nasrani, notabene tak hobi dengan syariat Islam.

Manfaat Tak Ikhtilat
Terpisahnya Komunitas Cowok dan Cewek Non-MahromHebatnya, Islam itu menyediakan cara-cara yang cerdas. Salah satunya, Islam sangat paham dengan prinsip “Mencegah lebih baik daripada mengobati”. Makanya, Islam memilki sistem yang kuat, yang pernah selama lebih dari 1300 tahun negeri Islam berjaya, Islam memilki rekor terbaik berupa negeri yang kasus kriminalnya paling sedikit, diantara negeri-negeri lain yang menerapkan sistem Demokrasi, Republik, Kerajaan, dan sebagainya.

Kenapa bisa begitu? Tentulah, salah satu penyebabnya, karena undang-undang secara tegas melarang ikhtilat. Karena pelarangan ikhtilat merupakan solusi yang mengakar. Bukan solusi ecek-ecek yang sementara.

Maksudnya, ibaratnya solusi ecek-ecek itu, ketika atap Rumah Anda bocor, dan kalau hujan jadinya tetesan air berjatuhan melulu, maka Anda naruh ember di tempat jatuhnya tetesan air tersebut. Sedangkan solusi mengakarnya adalah, Anda perbaiki atap Rumah Anda.

Soalnya, kalau ngerjain solusi sementara, itu menyebabkan kita jadi capek, besok-besoknya harus ngurusin masalah itu lagi. Kalau solusi mengakar, insya Allah besok masalahnya nggak ada lagi.
Lagi pula, emang dasar Allah dan RasulNya yang memerintahkan kan?

Kedua mata zinanya adalah memandang [yang haram]; kedua telinga zinanya adalah mendengar [yang haram], lidah zinanya adalah berbicara [yang haram], tangan zinanya adalah menyentuh [yang haram], dan kaki zinanya adalah melangkah [kepada yang haram].
[HR. Muslim]

…para wanita yang ikut hadir dalam shalat berjamaah, selesai salam segera bangkit meninggalkan masjid pulang kembali ke rumah mereka. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan jamaah laki-laki tetap diam di tempat mereka sekedar waktu yang diinginkan Allah. Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit, bangkit pula kaum laki-laki tersebut.
[HR. Bukhari]

Nah, kan, yang keluar perempuan dulu, baru laki-laki. Kalau keluar bersamaan, bisa-bisa ikhtilat jadinya.

Tidaklah merajalela perbuatan zina di suatu kaum, kecuali kematian pun akan merajalela di tengah kaum itu.
[HR. Ahmad]

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
[QS. An-Nuur (24): 31]

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya* ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[QS. Ar-Rahmaan (33): 59]
Share:

Dunia Sementara AKhirat Selamanya


Allah SWT menciptakan dunia ini untuk kita manusia, namun kita diciptakan oleh Allah bukanlah untuk dunia ini.

Allah SWT menciptakan kita adalah untuk kehidupan akhirat yang selama-lamanya.

Ketetapan Allah bahwasannya dunia ini hanyalah sementara saja, apa saja yang ada didunia ini, siapa saja yang ada di dunia ini hanya sementara saja.

Kaya di dunia, kaya yang sementara, miskin di dunia pun miskin yang sementara, jadi raja di dunia, raja yang sementara, jadi rakyat pun sementara saja.

Sehat sementara, sakit sementara, tampang sementara, cantik sementara, hidup sementara bahkan matahari yang kita lihat terbit di ufuk timur tiap hari dan tenggelam di ufuk barat itu pun sementara saja.

Suatu hari nanti pasti dan pasti Allah akan hancurkan itu matahari, sungguh bodoh apabila kita mencintai sesuatu yang sementara. Mencintai dunia yang akan Allah hancurkan

Alihkanlah cinta kepada kampung akhirat tempat kehidupan yang abadi selama-lamanya. Kaya selama-lamanya dan tidak akan miskin-miskin lagi, jadi raja selama-lamanya yang tidak pernah di ganggu oleh demonstran. Cantik selama-lamanya yang tidak akan tua-tua lagi bahkan hidup disana selama-lamanya.

Dikumpulkan seluruh kenikmatan-kenikmatan dunia kemudian dibandingkan kenikmatan yang Allah berikan pada satu orang ahli surga itu seperti kita mencelupkan ujung jari kita ke samudra yang luas dan lihatlah satu tetes air yang menempel di jari kita, itulah kenikmatan dunia.

Begitu pula seluruh kenikmatan-kenikmatan di dunia dikumpulkan kemudian dibandingkan dengan satu orang ahli neraka, maka seluruh penderitaan di dunia ini bagaikan satu bijih salak saja tidak ada apa-apa.

Masalah di dunia bukanlah masalah yang sesungguhnya, masalah kita nanti yang sesungguhnya adalah di akhirat.

“Puisi yang berisi nasihat nasihat agama.

di bawakan oleh Derry Sulaiman”
Share:

Popular Posts

Powered by Blogger.